Teknik Membunuh Demokrasi di Sebuah Republik Negara Ketiga; Testimoni Seorang Sukarelawan Tester Sistem yang Gagal.

Medium | 24.01.2026 21:16

Teknik Membunuh Demokrasi di Sebuah Republik Negara Ketiga; Testimoni Seorang Sukarelawan Tester Sistem yang Gagal.

Daffaahhh13

5 min read

·

Just now

--

Share

Saya tinggal di Republik Santuyland, negara yang selalu baik-baik saja.

Bahkan saat semuanya jelas-jelas tidak baik.

Di sini, krisis tidak pernah diumumkan.

Ia hanya dinormalisasi.

Demokrasi kami tidak pernah dinyatakan mati. Itu tidak sopan. Kami lebih suka mengatakan ia “berkembang sesuai konteks lokal”. Konteks lokal ini elastis — bisa ditarik ke mana saja selama tidak menyentuh leher kekuasaan.

Saya sering diberi tahu bahwa saya hidup di negara demokratis. Buktinya sederhana: saya boleh bicara. Saya boleh menulis. Saya boleh mengeluh. Saya boleh mengkritik — selama kritik itu tidak terlalu spesifik, tidak terlalu konsisten, dan tidak terlalu dibaca orang.

Di Santuyland, kebebasan berekspresi seperti area merokok:

ada, tapi sempit, dan selalu diawasi.

Pemilu adalah kebanggaan nasional. Kami memamerkannya seperti piala. Spanduk di mana-mana. Senyum di mana-mana. Partisipasi tinggi. Hasilnya juga stabil — luar biasa stabil untuk sesuatu yang katanya kompetitif.

Saya memilih dengan penuh kesadaran bahwa suara saya penting secara filosofis, tapi tidak terlalu penting secara praktis. Ini yang disebut partisipasi dewasa: ikut serta tanpa ekspektasi.

Levitsky dan Ziblatt menulis bahwa demokrasi mati ketika penjaga gerbang berubah menjadi pemilik gerbang. Di Santuyland, gerbang itu bahkan sudah diberi karpet merah. Yang boleh masuk bukan yang dipilih rakyat, tapi yang tidak akan mengganggu furnitur.

Kandidat yang terlalu kritis dianggap belum matang.

Yang terlalu bersih dianggap tidak realistis.

Yang terlalu populer dianggap berpotensi memecah belah.

Akhirnya yang tersisa adalah pilihan-pilihan aman — seperti menu diet di rumah sakit. Tidak ada yang benar-benar enak, tapi semua diklaim sehat.

Media kami bebas. Ini fakta.

Bebas menyesuaikan diri.

Tidak ada larangan menulis. Tidak ada sensor resmi. Hanya ada daftar topik yang “kurang produktif”, narasumber yang “sebaiknya dihindari”, dan sudut pandang yang “lebih menyejukkan”.

Di Santuyland, kebenaran tidak dipatahkan.

Ia dipijat sampai tertidur.

Jurnalis yang kritis tidak ditangkap. Mereka dipanggil. Dengan nada ramah. Dengan kopi. Dengan kalimat pembuka yang selalu sama: “Kami sebenarnya sepakat, tapi…”

Dan selalu ada tapi.

Akademisi juga bebas berbicara, selama tetap akademis — yang di sini artinya tidak menyebut nama, tidak menunjuk arah, dan tidak mengaitkan sebab-akibat terlalu jelas. Kritik harus seperti puisi: indah, ambigu, dan aman bagi siapa pun yang membacanya.

Hukum di Santuyland sangat fleksibel. Ini kami banggakan. Fleksibel untuk menyesuaikan zaman. Fleksibel untuk membaca situasi. Fleksibel untuk mengerti siapa yang sedang dibicarakan.

Ke bawah, hukum tegas demi ketertiban.

Ke atas, hukum bijak demi stabilitas.

Levitsky dan Ziblatt menyebut institutional forbearance: menahan diri dalam menggunakan kekuasaan. Di Santuyland, kekuasaan tidak menahan diri — ia hanya tahu kapan kamera menyala.

Setiap pelanggaran selalu disertai penjelasan panjang. Setiap penjelasan selalu terdengar masuk akal. Dan rakyat, seperti biasa, disuruh memahami kompleksitas. Karena di Santuyland, hal paling berbahaya adalah pemahaman yang terlalu sederhana.

Saya sering mendengar kalimat ini:

“Jangan lebay.”

Kalimat favorit negara yang alergi pada urgensi.

Kemarahan dianggap tidak dewasa. Keberatan dianggap tidak konstruktif. Dan yang paling mematikan: kepedulian dianggap naif. Maka kami belajar menjadi santuy. Santuy adalah cara paling elegan untuk menyerah tanpa harus mengaku kalah.

Kami membuat lelucon. Meme. Satir.

Kami tertawa bersama, sambil tahu bahwa tawa ini tidak mengubah apa pun.

Dan negara membiarkan kami tertawa, karena tawa yang tidak berujung pada tindakan adalah bentuk perlawanan yang paling jinak.

Saya menulis ini bukan sebagai seruan. Seruan terlalu berisik.

Saya menulis ini sebagai catatan — bahwa demokrasi di Santuyland tidak mati karena diserang, tapi karena terlalu sering diminta mengerti.

Mengerti situasi.

Mengerti kondisi.

Mengerti kenapa kali ini dikecualikan.

Dan setelah terlalu sering mengerti,

kami lupa bagaimana caranya menuntut.

Republik Santuyland akan terus terlihat damai. Stabil. Santuy.

Demokrasinya akan tetap ada — sebagai kata, sebagai logo, sebagai arsip.

Yang hilang hanya satu hal kecil:

artinya.

Dan di negara ini, kehilangan makna tidak pernah dianggap darurat.

Dan justru karena tidak pernah dianggap darurat, semuanya bisa terus berjalan.

Di Republik Santuyland, keadaan darurat hanya berlaku untuk hal-hal yang mengganggu arus kekuasaan. Harga naik? Fluktuasi global. Hak menyempit? Penyesuaian regulasi. Kritik dibungkam? Kesalahpahaman komunikasi. Tapi ketika demokrasi kehilangan isi, kami diberi senyum dan kata “masih aman”.

Aman adalah kata paling fleksibel di negara ini.

Aman bagi siapa, itu detail teknis.

Saya sering melihat pejabat berbicara tentang demokrasi dengan nada orang menjelaskan resep masakan yang tidak pernah mereka masak sendiri. Mereka hafal istilahnya, tahu urutannya, tapi tidak pernah lapar. Demokrasi bagi mereka bukan kebutuhan — ia properti. Dipakai saat perlu, disimpan saat merepotkan.

Dan kami, rakyat biasa, diminta menjadi penonton yang sopan. Tepuk tangan di awal. Diam di tengah. Pulang sebelum bertanya.

Levitsky dan Ziblatt menulis bahwa demokrasi mati ketika aktor politik berhenti memperlakukan lawan sebagai lawan yang sah. Di Santuyland, lawan tidak dianggap lawan — mereka dianggap gangguan. Noise. Sesuatu yang perlu diredam agar siaran tetap jernih.

Maka perbedaan pendapat tidak dilawan.

Ia dipersonalisasi.

Bukan idenya yang salah. Orangnya yang bermasalah.

Bukan kritiknya yang valid. Motifnya yang dicurigai.

Bukan sistemnya yang bocor. Loyalitasnya yang dipertanyakan.

Ini cara paling efektif membunuh diskusi tanpa terlihat anti-demokrasi.

Saya perhatikan satu hal lain: negara ini sangat mencintai kata dialog. Dialog selalu ditawarkan tepat setelah keputusan dibuat. Dialog sebagai penutup, bukan pembuka. Dialog sebagai kosmetik, bukan proses.

Kami diajak bicara setelah semuanya selesai, agar bisa merasa dilibatkan. Seperti pasien yang diminta menandatangani formulir setelah operasi.

Dan kami menandatangani.

Karena menolak hanya akan membuat hidup lebih ribet.

Di Santuyland, keribetan adalah hukuman sosial. Tidak resmi, tapi efektif. Orang yang ribet sulit dapat kerja. Sulit dapat panggung. Sulit dapat simpati. Mereka disebut idealis — kata yang terdengar mulia, tapi dipakai seperti peringatan.

“Jangan jadi orang ribet,” kata kami satu sama lain,

seperti mantra agar tetap aman.

Saya juga bagian dari itu. Saya tahu kapan harus berhenti menulis. Kapan harus mengganti kata. Kapan satir harus dibuat cukup kabur agar bisa dianggap lelucon. Ini bukan keberanian. Ini adaptasi.

Negara ini tidak membungkam saya.

Negara ini mengajari saya cara membungkam diri sendiri.

Dan itu pelajaran paling mahal.

Demokrasi Santuyland tetap berjalan di atas rel prosedur. Parlemen bersidang. Pengadilan mengetuk palu. Konstitusi dikutip di mana-mana. Tapi semua itu terasa seperti bangunan tua yang dicat ulang — indah di luar, rapuh di dalam.

Kami hidup di dalam museum demokrasi.

Semua artefaknya lengkap.

Fungsinya sudah lama hilang.

Jika Anda bertanya pada saya apakah saya masih berharap, saya akan menjawab diplomatis: tentu. Harapan adalah kebiasaan buruk yang sulit dihentikan. Tapi saya juga tahu, di Santuyland, harapan paling aman adalah yang tidak diucapkan keras-keras.

Karena suara yang terlalu jujur terdengar mengganggu.

Dan gangguan adalah dosa terbesar di negara yang selalu ingin terlihat santai.

Saya tidak tahu kapan ini akan berakhir. Mungkin tidak akan. Mungkin Santuyland akan terus seperti ini — demokrasi yang dipelihara sebagai simbol, bukan sebagai praktik. Negara yang stabil karena rakyatnya terlalu capek untuk mengguncang apa pun.

Dan jika suatu hari generasi setelah saya bertanya,

“Kenapa dulu tidak ada yang melawan?”

saya punya jawaban yang jujur tapi tidak heroik:

Kami tidak dilarang.

Kami tidak dipukul.

Kami hanya dibuat merasa bahwa melawan itu tidak ada gunanya.

Dan di Republik Santuyland,

perasaan itu lebih kuat daripada penjara mana pun.