Dunia Gagal Terbakar dalam Pengakuan Kotor

Medium | 08.01.2026 00:13

Dunia Gagal Terbakar dalam Pengakuan Kotor

Agus Hardiyanto

4 min read

·

Just now

--

Share

​“Aku pulang dulu ya, Paijo.”

​Keyla sudah meraih gagang pintu ketika kalimat itu keluar. Santai. Terlalu santai untuk sesuatu yang sebenarnya adalah sebuah akhir.

​Paijo bangkit dari kursinya. Gerakannya lambat, seperti mesin tua yang karatan. “Keyla.”

​“Iya?”

​“Kalau dunia ini selembar kertas,” suara Paijo rendah, “aku bakal ngerobek dan ngebakarnya sekarang juga.”
​Keyla tersenyum tipis, jenis senyum yang diberikan orang dewasa kepada balita yang sedang tantrum. “Kamu selalu punya metafora aneh tiap kali merasa kalah.”

​“Ini bukan metafora,” Paijo melangkah maju. “Ini pengakuan. Di kertas itu... nggak ada kita.”

​Hening mendadak menyelip. Bukan hening romantis, melainkan jenis sunyi yang membuat paru-paru terasa menyempit.

​“Dari awal aku nggak pernah janji apa-apa, Jo,” kata Keyla akhirnya.

​“Aku tahu. Tapi ternyata tahu itu nggak bikin segalanya jadi lebih mudah diterima.”

​Keyla membuka pintu sedikit. Udara malam yang dingin masuk tanpa izin. “Aku capek muter-muter di lingkaran ini.”

​Refleks, tangan Paijo menangkap pergelangan tangan Keyla. Tidak kasar, tapi ada keputusasaan yang tertinggal di sana. “Jangan,” katanya. Bukan teriakan, justru pelan, terlalu pelan untuk sesuatu yang sangat ingin menahan.

​Keyla menoleh, menatap tangan itu, lalu naik ke mata Paijo. “Paijo,” katanya tenang, “kalau kamu narik aku sekarang, kamu cuma lagi buktiin satu hal.”

​“Apa?”

​“Bahwa kamu pengen punya kuasa… bukan pengen punya aku.”

​Kalimat itu menghantam seperti air es. Genggaman Paijo mengendur, tenaganya mendadak habis.
​“Aku luar biasa nggak terima,” bisik Paijo lirih. “Aku pengen dunia nurut. Sekali ini aja.”

​Keyla menggeleng pelan. “Dunia nggak bisa kamu bakar cuma karena kamu sakit hati.”

​“Aku tahu,” Paijo tersenyum pahit. “Makanya pengakuan ini terasa kotor.”

​Perlahan, jari-jarinya melepas Keyla. “Lepasin aku,” kata Keyla lembut. “Biar perasaanmu tetap jujur. Jangan sampai jadi paksaan.”

​Paijo mengangguk kecil. Tangannya jatuh di sisi tubuhnya. Kosong. “Oke,” katanya. “Aku lepas.”

​Keyla memberikan senyum singkat, senyum orang yang pernah peduli, tapi sudah memilih pergi. “Hati-hati, Paijo.”

​Pintu pun kemudian tertutup. Klik.

​Sunyi langsung menyergap. Paijo masih mematung, jarinya masih gemetar merasakan sisa hangat pergelangan tangan Keyla. Ia menatap telapak tangannya sendiri seolah-olah ada kutukan di sana.

​“Heh... dewasa ya, Jo?” bisiknya pada dinding kosong.

​Ia mulai berjalan mondar-mandir, tapi kakinya lemas. Ia tersandung ujung karpet, hal kecil yang biasanya tidak terasa, tapi sekarang seolah dunia sengaja ingin menjegalnya. Ia jatuh berlutut. Bukannya langsung bangun, Paijo malah diam di posisi itu, membiarkan debu lantai menempel di celananya.

​“Katanya mau bakar dunia,” ia tertawa sumbang, suaranya pecah di ujung. “Nahan satu perempuan aja nggak becus. Sok jagoan lu, Jo.”

​Ia merayap menuju meja, mencoba mencari pegangan untuk berdiri, tapi emosinya lebih cepat sampai ke tangan.

​BRAK!

​Ia menjungkirkan meja itu dengan tenaga yang tersisa. Gelas kopi yang masih setengah penuh tumpah, membasahi lantai, menciprati kausnya, hitam, pekat, dan lengket. Persis seperti hatinya.

​"MAU KAMU APA SIH?!" teriaknya ke ruangan kosong.

​Sunyi. Tidak ada jawaban. Hanya bunyi detak jam dinding yang terdengar seperti ejekan yang konstan. Tik. Tok. Kasihan. Tik. Tok. Sendirian.

​Paijo memunguti pecahan gelas dengan tangan telanjang. Ia tidak peduli jika ujung kaca itu menggores kulitnya. Malah, rasa perih di jarinya terasa lebih masuk akal daripada rasa sesak di dadanya. Ada setetes darah yang jatuh ke lantai, bercampur dengan tumpahan kopi.

​“Dunia nggak bakal terbakar, Jo,” gumamnya kosong. “Dunia nggak peduli sama kamu. Dia cuma lanjut berputar sementara kamu di sini, jongkok sambil megangin beling.”

​Ia menyandarkan punggungnya ke kaki sofa yang miring, menutup wajah dengan tangan yang kotor oleh debu dan sisa kopi. Dia benar-benar terlihat seperti pecundang yang baru saja kalah judi nyawa.

​Tiba-tiba, suara kunci diputar terdengar lagi.​Klik.

​Paijo tidak bergerak. Ia terlalu malu untuk sekadar mendongak. Ia berharap itu cuma ilusi.

​“Wow,” suara itu muncul lagi. “Aku pergi lima menit, kamu udah bikin revolusi.”

​Paijo mendongak dari balik lututnya. Keyla berdiri di sana, tangan di saku jaket, menatap kekacauan di lantai.

​“Telat. Revolusinya gagal,” suara Paijo serak. “Kalau kamu balik cuma mau ngetawain meja yang kebalik, mending pergi lagi. Jangan lihat aku yang kayak gini.”

​Keyla tidak pergi. Ia justru masuk, menutup pintu, dan jongkok di depan Paijo. Ia menatap mata Paijo yang merah dan berantakan.

​“Jo,” katanya ringan tapi tajam, “kalau aku mau kejam, aku nggak bakal balik.”

​“Karena lupa charger?” Paijo nyengir hambar, mencoba menutupi malunya.

​Keyla mencubit lengannya keras. “Bodoh. Aku balik karena aku tahu kamu bukan pengen menguasai. Kamu cuma takut nggak dianggap cukup.”

​Kalimat itu kena. Dalam. Menembus semua benteng ego yang tadi Paijo bangun.

​“Aku sampe ngebalik meja, Key. Aku... aku memalukan.”

​“Iya,” Keyla mengangguk. “Dan itu alasan aku balik. Laki-laki lain bakal sok kuat, sok rapi, dan pura-pura baik-baik saja setelah aku tinggal. Kamu? Berantakan. Jujur. Konyol. Tapi kamu tahu kapan harus lepas,” Keyla menatap tangan Paijo yang tergores. “Dan itu nggak semua orang bisa.”

​Paijo menghela napas panjang, kepalanya menyandar ke sofa. “Kamu kejam tahu nggak.”

​Keyla tersenyum miring. “Aku tahu. Terus, kenapa masih mau sama aku?”
​Keyla berdiri, mengulurkan tangan ke Paijo yang masih terduduk di lantai yang kotor. "Karena aku lebih takut sama laki-laki yang rapi tapi bohong, daripada yang berantakan tapi sadar diri"

​Paijo menatap tangan itu lama. Lalu mengambilnya.

​“Jangan balikin meja lagi,” kata Keyla sambil menariknya berdiri. “Itu jelek. Dan itu meja mahal.”

​Malam itu tidak berakhir dengan pelukan puitis. Paijo membereskan pecahan gelas sambil ngomel-ngomel tentang karma, sementara Keyla duduk di sofa, kaki selonjor, main ponsel.

​“Aku nggak balik buat bikin kamu tenang,” kata Keyla tiba-tiba. “Aku balik karena aku pengen ribut bareng kamu… tapi besoknya masih bisa ketawa.”

​Paijo manggut-manggut sambil mengelap sisa kopi di lantai. “Oh… jadi ini kontrak ribut jangka panjang?”

​“Kurang lebih.”

​Malam itu mereka tidak membahas masa depan, tidak janji apa-apa, tidak minta saling sembuh. Mereka cuma makan mie instan jam dua pagi. Keyla tertawa melihat Paijo kepedesan dan bilang, “Laki-laki sok bakar dunia, tapi kalah sama satu cabe rawit.”

​Paijo tersenyum kecil. Dunia tetap utuh. Tidak sobek. Tidak terbakar. Tapi kali ini, ada dua orang duduk di lantai yang sama, menertawakan kekacauan yang gagal mereka hancurkan.

​Besok? Kalau meja terbalik lagi, Paijo tahu Keyla tidak akan lari. Dia cuma akan bilang,
​“Udah, Jo. Geser dikit. Aku mau duduk.”