ATEMPORAL

Medium | 22.01.2026 15:07

ATEMPORAL

Rafly Hendra

Follow

2 min read

·

Just now

Share

Alegori runtuhnya kekuasaan absolut dan lahirnya kesetaraan melalui kemandirian rakyat

Negeri sukma diperlihatkan mimpi buruk yang akan diraih, matriarki penuh silsilahnya menobatkan secara primer dan konstan. Bapak dari anak-anak melalui hubungan biologisnya dibabi butakan atas cakaran serapahnya hingga tersayat-sayat, ibadah dijalankan sang bapak meluapkan emosionalnya dengan seiris senyuman. Terus bergulir nasehat dilontarkannya namun telinga sang ratu dengan sengaja tak ingin menampung. Gaun indah memukau ratu Jane Landers untuk dikenakan kedaulatan sebagai taruhan fluktuatif mahkotanya, pasutri sudah menginjak 1 dasawarsa dan perjalanan kembali semula pada harta dudukan tahta ke sekian ratus, kemampuan pola pikir biner memperkaya mimpi sang ratu dengan konsekuensi destruktif. Rakyat seharusnya menuju sansaya merdeka, bubrah seketika mendengar penuturan dari ahli jam kerajaan pada dasarnya tugas mereka hanya mengaksarakan kaum sang ratu. Ketidakseimbangan potensial ahli horologi ini akhirnya mendepak rakyat untuk merubah gaya hidupnya yang awalnya terikat fase modernisasi menjadi masa pra-aksara. Sayangnya sang ratu tak terkecamuk dengan kontradiksi saat ini, pegang kekuasaan penuh berderai bintang malam kesepian. Berpihak terbawa medan upah payah sang konservatif waktu antara gelap dan gulita.

Bapak Gordon O’connor menghadapi kesengsaraan itu namun dengan demikian melepas lega penuh lapang dada tuk menjalani. Dimensi yang berada pada perbedaaan saat ini mengais tanah, memupuk flora tetap hidup, hiruk pikuk buangan gas fauna menampik pikir kritisnya. Kajian kaum marhaen menyetarakan sebagai sosionalism dengan sekitaran, tumbuh kemakmuran semerbak dan sederhana.

Get Rafly Hendra’s stories in your inbox

Join Medium for free to get updates from this writer.

Subscribe

Subscribe

Di balik kesederhanaan yang tumbuh itu, waktu tidak lagi berdetak sebagai alat penindas, melainkan bernafas bersama tanah yang digarap. Kaum marhaen menamai hari bukan dengan angka, tetapi dengan musim, bau hujan, dan arah angin. Anak-anak Gordon O’Connor belajar mengenali dunia dari retakan bumi dan denyut akar, bukan dari aksara yang dulu dirampas. Ingatan kolektif perlahan menggantikan kitab cerita diturunkan lewat api unggun dan telapak tangan yang saling menggenggam.

Sementara itu, di istana yang semakin sunyi, Ratu Jane Landers dikelilingi jam-jam kerajaan yang tetap berputar tanpa makna. Ahli horologi yang dulu diagungkan kini terjebak dalam paradoks ciptaannya sendiri waktu berjalan, namun peradaban mundur. Gaun-gaun kebesaran kehilangan kilau di hadapan cermin yang memantulkan wajah lelah sebuah kedaulatan yang berdiri di atas kesunyian, bukan kesepakatan. Nasihat yang pernah dibuang kini bergaung sebagai gema di ruang tak berpenghuni.

Pada suatu malam tanpa bintang, ratu memerintahkan pembacaan ulang sejarah bukan untuk rakyat, melainkan untuk dirinya sendiri. Namun setiap kalimat patah sebelum selesai, sebab aksara tak lagi hidup di luar tembok istana. Kekuasaan yang tak lagi dipahami berubah menjadi beban mahkota fluktuatif itu menekan pelipisnya dengan dingin yang tak bisa diusir doa.

Di seberang tembok, Gordon menyadari sesuatu yang sederhana namun mendasar kebebasan tak selalu lahir dari kemajuan, kadang ia tumbuh dari pelepasan. Mereka yang dulu dianggap mundur justru menemukan keseimbangan antara manusia, fauna, dan flora sebuah sosialisme alamiah yang tak memerlukan doktrin. Kritik tak lagi dilontarkan dengan kata, tetapi dengan pilihan hidup.

Dan ketika suatu kabut menyelimuti negeri sukma, dentang jam kerajaan berhenti serempak. Tidak ada sorak, tidak ada ratap. Hanya kesunyian yang menandai peralihan kekuasaan kehilangan waktu, sementara rakyat menemukan ritmenya sendiri. Negeri itu tak runtuh, tak pula berjaya ia sekadar hidup, dengan luka yang diingat dan masa depan yang tak lagi dipaksakan.