Mengapa Memperlakukan Laki-Laki dan Perempuan Secara Sama Justru Tidak Adil ?

Medium | 06.01.2026 22:00

Mengapa Memperlakukan Laki-Laki dan Perempuan Secara Sama Justru Tidak Adil ?

Nella Egizta

2 min read

·

Just now

--

Share

Pemahamanku tentang kesetaraan gender berubah ketika aku berhenti melihat manusia sebagai entitas yang bisa diperlakukan secara seragam. Kita sering mengucapkan kata equality dengan penuh keyakinan, seolah itu puncak dari keadilan. Laki-laki dan perempuan diperlakukan sama, diberi aturan yang sama, tuntutan yang sama, standar yang sama. Kedengarannya ideal. Namun dalam praktik hidup sehari-hari, aku menyadari bahwa perlakuan yang sama tidak selalu menghasilkan keadilan yang sama.

Kesalahan terbesar kita adalah mengira bahwa kesetaraan berarti menyeragamkan. Padahal, manusia tidak pernah memulai hidup dari titik yang identik. Dalam konteks gender, perempuan sering membawa beban yang tidak kasat mata seperti ekspektasi sosial, tanggung jawab emosional, tuntutan moral, dan risiko keamanan yang tidak selalu dialami laki-laki. Ketika sistem menutup mata terhadap perbedaan ini, equality justru menjadi bentuk ketidakadilan yang paling halus.

Di sinilah konsep equity menjadi relevan dan sering disalahpahami.

Equity bukan tentang memanjakan satu pihak, melainkan tentang memahami realitas sebelum menetapkan aturan. Jika equality berkata, “Semua orang diberi tangga yang sama,” maka equity bertanya, “Siapa yang berdiri di tanah yang lebih rendah?” Tanpa pertanyaan itu, keadilan hanya menjadi formalitas.

Contohnya sederhana dan sangat dekat dengan kehidupan kita. Di dunia kerja, perempuan yang pulang lebih awal sering dianggap kurang profesional. Aturannya sama: jam kerja yang sama, target yang sama. Itu equality. Namun realitasnya, banyak perempuan menjalani double shift: bekerja di kantor dan mengelola urusan domestik. Ketika sistem tidak menyediakan fleksibilitas atau dukungan, maka aturan yang “sama” itu justru menghukum. Equity hadir melalui kebijakan kerja fleksibel atau cuti melahirkan bukan sebagai keistimewaan, tetapi sebagai penyeimbang realitas.

Sering kali, equity ditolak dengan argumen defensif: “Kalau terlalu memihak perempuan, nanti laki-laki dirugikan.” Di sinilah kita lupa bahwa equity tidak menggeser ketidakadilan, melainkan menguranginya. Ini bukan tentang siapa yang diuntungkan, melainkan tentang siapa yang selama ini tertinggal tanpa disadari.

Aku juga melihat ini dalam ruang pendidikan. Siswa laki-laki dan perempuan duduk di kelas yang sama, mempelajari materi yang sama itu equality. Namun ketika siswi enggan berbicara karena takut dicap terlalu vokal, terlalu dominan, atau tidak sesuai norma sosial, maka memberi mereka ruang aman untuk bersuara adalah equity. Bukan karena mereka kurang mampu, tetapi karena lingkungan belum sepenuhnya netral.

Kesetaraan gender sering gagal bukan karena niat yang buruk, melainkan karena kurangnya empati dalam merancang keadilan. Kita terlalu cepat berkata “semua sudah sama” tanpa bertanya “semua sudah adil atau belum.”

Pada akhirnya, memperjuangkan equity menuntut kedewasaan emosional yang sama seperti ketika kita belajar memahami orang lain dalam kehidupan pribadi. Ini bukan soal membenarkan ketimpangan, tetapi soal berani melihat kenyataan apa adanya. Sama seperti dalam hubungan manusia, memahami tidak sama dengan mengalah, dan adil tidak sama dengan memanjakan.

Kesetaraan gender yang sejati tidak lahir dari dunia yang seragam, tetapi dari keberanian untuk mengakui perbedaan tanpa merendahkan.
Karena keadilan bukan tentang menyamakan langkah, melainkan memastikan setiap orang punya kesempatan yang benar-benar setara untuk sampai tujuan.