Persaudaraan Mutlak: Dari Audre Lorde ke Krisis Kemanusiaan Global

Medium | 25.01.2026 19:02

Persaudaraan Mutlak: Dari Audre Lorde ke Krisis Kemanusiaan Global

Dody Saputra

3 min read

·

Just now

--

Share

Press enter or click to view image in full size

“I am not free while any woman is unfree, even when her shackles are very different from my own.”
— Audre Lorde

Kalimat ini lebih dari sekadar pernyataan feminis tentang kesetaraan gender. Ia adalah dogma persaudaraan mutlak sebuah prinsip moral yang menuntut kita memahami kebebasan sebagai pengalaman bersama, bukan sekadar hak individual yang dinikmati oleh segelintir orang. Ketika Lorde berkata ia tidak bebas selama ada perempuan lain yang tidak bebas, ia sedang menjungkirbalikkan logika politik yang memisahkan pengalaman penderitaan, memperkaya satu kelompok sementara mengabaikan kelompok lain yang tertindas oleh struktur kekuasaan yang berbeda.

Jika kita universalisasikan pemikiran Lorde, kita akan sampai pada satu kesimpulan sederhana namun radikal: kebebasan siapa pun tidak bermakna tanpa kebebasan semua pihak: lintas gender, lintas batas, lintas identitas, dan lintas benua.

Persaudaraan Mutlak sebagai Dogma Etis

Persaudaraan mutlak bukan sekadar slogan humanis yang hangat di telinga. Ia adalah tuntutan etik yang mengikat tindakan kita ketika berhadapan dengan krisis kemanusiaan yang kompleks. Dogma ini menolak hierarki penderitaan — sebuah gagasan bahwa satu jenis penindasan lebih pantas mendapat perhatian daripada jenis penindasan lain.

Lorde mengingatkan kita bahwa:

Penindasan tidak monolitik,

Pembebasan tidak linier,

Dan solidaritas tidak bisa selektif.

Kita tidak bisa berbicara tentang kebebasan perempuan di satu sisi dunia sambil membiarkan perempuan (dan manusia secara umum) menderita di tempat lain hanya karena bentuk penindasan mereka “berbeda”.

Kebebasan dalam Geopolitik Kontemporer

Dalam konteks global saat ini, gagasan persaudaraan mutlak mengharuskan kita berpikir secara transnasional.

1. Krisis Pengungsi & Eksklusi Politik

Bayangkan jutaan orang yang terusir oleh perang dan krisis di Suriah, Yaman, Ukraina, Sudan, atau Rohingya di Myanmar banyak di antara mereka perempuan, anak-anak, dan minoritas yang menghadapi kekerasan sistemik, diskriminasi, dan akses terbatas ke hak dasar.

Mengadopsi prinsip Lorde berarti:

Tidak cukup hanya bersimpati dari jauh,

Tapi menolak kebijakan yang memperlakukan pengungsi sebagai “beban” atau “ancaman”.

Sampai saat itu berubah, kebebasan kita sebagai bagian dari komunitas manusia global masih tertunda.

2. Ketimpangan Akses Kesehatan Global

Pandemi COVID-19 membuka tabir ketidakadilan struktural: vaksin dan perawatan lebih mudah diakses oleh negara-negara kaya, sementara negara-negara Global South berjuang dengan kekurangan, infrastruktur rapuh, dan kematian yang seharusnya bisa dihindari.

Di sini, prinsip persaudaraan mutlak menolak logika pasar yang mengatakan: Siapa yang mampu membeli, maka dialah yang layak diselamatkan.
Apakah kita benar-benar bebas saat nyawa manusia dipatok pada kemampuan ekonomi suatu negara?

3. Isu Perempuan & Minoritas di Konflik Bersenjata

Konflik bersenjata sering kali memperburuk ketidaksetaraan gender, ras, dan kelas:

Kekerasan seksual sebagai senjata perang,

Ancaman terhadap hak reproduksi,

Perampasan akses pendidikan dan pekerjaan.
Dalam banyak kasus, suara perempuan kulit bukan-kulit putih bahkan tidak terdengar dalam narasi perdamaian. Dogma persaudaraan mutlak menuntut suara mereka didengar, dihormati, dan diikutsertakan bukan hanya sebagai korban, tapi sebagai agen perubahan.

Menolak Hierarki Penderitaan

Persaudaraan mutlak juga berarti kita menolak dua jebakan berbahaya:

a) Relativisme penderitaan
Argumentasi bahwa “itu penderitaan mereka, bukan kita” atau “itu bukan urusan kita” adalah bentuk lain dari isolasi moral.

b) Kompetisi naratif penindasan
Dimana setiap kelompok tertindas mencoba “memenangkan” status paling termarjinalkan. Itu hanya memecah solidaritas menuju fragmentasi tanpa akhir.

Dogma persaudaraan mutlak justru berkata:

Selama ada satu pihak yang tertindas, kebebasan kolektif kita tidak utuh.

Solidaritas Transnasional: Tugas Kita Sekarang

Bagaimana dogma ini diterjemahkan ke dalam aksi?

Mendukung Gerakan Global yang inklusif
Perjuangan feminis, anti-rasisme, anti-kolonialisme, dan hak migran tidak bisa dipisahkan.

Menolak Kebijakan Eksklusif
Termasuk kebijakan imigrasi yang diskriminatif, distribusi vaksin yang tidak adil, ataupun bantuan kemanusiaan yang selektif.

Mendengarkan Yang Marginal
Memberi ruang pada suara perempuan, minoritas, dan kelompok rentan dalam setiap diskursus publik.

Mendidik Ulang Narasi Kebebasan
Dari kebebasan sebagai hak individu menjadi kebebasan sebagai proyek kolektif yang menolak batas-batas semu antara “kita” dan “mereka”.

Penutup

Audre Lorde tidak sekadar menolak penindasan. Ia mengajukan sebuah etika solidaritas yang menuntut kita melampaui identitas sempit, melampaui ego politik, dan melampaui batas-batas geografi.

Ketika kita mengatakan “aku bebas”, kita harus siap bertanya:

Untuk siapa aku benar-benar bebas?
Siapa yang masih tertinggal?
Apakah kebebasan itu berlaku untuk semua, atau hanya untuk sebagian?

Persaudaraan mutlak bukan impian utopis. Ia adalah tuntutan moral yang harus dikokohkan dalam tindakan nyata di ruang publik, kebijakan internasional, dan cara kita memandang satu sama lain sebagai sesama manusia. []